Harga Kopi Makin Pahit, Sandi: Pemerintah Gagal Berantas Tengkulak

SimponiNews.com –  Cawapres Sandiaga Uno mengunjungi Dusun Malebo Barat, RT 01/03 Desa Malebo, Kandangan, Temanggung, Jawa Tengah pada Sabtu (1/12). Dalam kunjungannya, Sandi mengkritik kegagalan pemerintah dalam memberantas tengkulak kopi. Karena itu, harga jual kopi melonjak tinggi.

“Harga kopi saya bilang rasanya pahit seperti rasa kopinya, karena mestinya harga kopi di pasar Rp 24.000, di pasar Rp 28.000. Kalau di Jakarta sudah 10 kali lipat. Jadi di tingkat petani jangan pahit ada manis-manisnya. Pahitnya kayak jamu brotowali,” kata Sandi.

Pernyataan Sandi bedasarkan keluhan salah satu petani kopi, Winarto yang ia kunjungi. Kepada Sandi, Winarto mengeluhkan tentang pengadaan pupuk. Selain itu, berkuasanya tengkulak yang memainkan harga jual kopi mentah petani.

Hal senada disampaikan pengurus kelompok tani kopi Desa Melebo, Siti, yang mengeluhkan pasokan pupuk yang langka. Kelangkaan ini, membuat petani kopi terpaksa membeli pupuk kepada tengkulak.

“Kami sudah bentuk koperasi simpan pinjam, tapi ketika mau beli pupuk, persediaan pupuk kosong, jadi koperasi tutup total. Petani kembali lagi beli ke tengkulak,” ungkap Siti.

Mendengar hal itu, Sandi menyesalkan kondisi petani kopi. Ia mengaku akan mencari solusi dengan melakukan langkah pelatihan dan pendampingan. Dengan ini, Sandi berharap agar kualitas kopi Indonesia meningkat sehingga setara dengan kualitas kopi negara lainnya.

“Kelas dunia. Saya ingin barista dan petani kopi mendapat pendidikan pelatihan yang baik, kalau bisa kita kirim ke Eropa atau Amerika. Kedua, branding. di sini udah Alhamdulillah. Kita ingin brand-nya lebih kuat. masa kita kalah sama Starbuck, padahal enggak punya kebun kopi cuma punya merek saja,” tambahnya.

Tak hanya itu, Sandi juga berencana anak meluncurkan program OK Oce Kopi, sehingga petani dapat melakukan pengelolaan mandiri dengan biji kopi yang dihasilkan.

“Kita ingin ada industri pengolahan. tadi alat-alatnya sudah bagus, sudah merek pabrikan Jember, walaupun UKM tapi tidak gunakan tradisional, ke depan kita harus terapkan teknologi terkini,” tutupnya.