Nabi Muhammad SAW Tidak Pernah Mengajarkan Kebencian

SimponiNews.com –┬áSerangan bom yang sering hari ini sering ditanggapi dan selalu identik dengan Islam. Apalagi, sejak munculnya kelompok teroris ISIS. Nama Islam mereka membom dan menyembelih di mana-mana.

Ketika mengacu pada namanya sendiri, Islam berarti, damai, patuh, dan aman. Perasaan itu tidak mungkin jika ajaran-ajarannya benar-benar diterapkan oleh pengikut mereka untuk mengandung ucapan kebencian, rasis, dan membenarkan untuk menumpahkan darah orang yang tidak bersalah.

Nabi Muhammad mengajarkan Islam bisa menjadi bukti atau jaminan akan hal itu. Terlepas dari sudut pandang mereka yang membenci atau pengikut sangat setia, jelas perjalanan hidup yang sangat menginspirasi. Melihat Rasululllah tidak pernah mengajarkan kebencian, pembantaian, dan menumpahkan darah tanpa alasan yang dibenarkan. Dia mengajarkan belas kasih bahkan kepada mereka yang telah dibenci. Ini bisa dilihat pada kisah berikut yang sangat menyentuh.

Nabi Muhammad setiap hari dengan makan makan pengemis buta Yahudi yang tulus. Setiap kali memberi makan pengemis buta, dia sering mendapat pesan untuk tidak mendekati Muhammad. Dia juga mencela dan menjelekkan Muhammad. Tetapi firman orang buta tidak berdampak pada Nabi Muhammad. Dia tetap rajin memberi makan setiap hari. Kisah ini dikenal oleh Abu Bakar dan Aisha RA (putri Abu Bakar yang juga istri Nabi).

Setelah Nabi Muhammad meninggal, Abu Bakr akan melanjutkan kebiasaannya, memberi makan orang buta memakan ini. Saat memberi makan, pengemis buta ini merasa bahwa dia bukanlah rutinitas yang biasa memberinya makan.

“Kamu siapa?” kata pengemis buta itu dengan nada tinggi.

“Aku orang biasa yang memberimu makan,” kata Abu Bakar.

“Tidak, kamu bukan orang biasa yang datang kepadaku. Jika dia datang kepadaku, tidak sulit untuk memegang tangan dan mulut yang keras tidak mengunyah. Dia selalu diberi makan dengan terlebih dahulu makanannya dihaluskan dengan mulutnya dan kemudian diberikan kepada saya, “kata pengemis itu.

Mendengar kata-kata ini, Abu Bakar tidak bisa menahan tangisnya. Akhirnya dia menangis di depan pengemis buta itu.

“Aku bukan orang yang biasa datang kepadamu. Orang-orang yang mulia, yang biasa memberi makan kamu tidak lebih. Dia adalah Muhammad sang Nabi,” kata Abu Bakar sembari tersedu-sedu.

Pengemis buta itu menangis. “Apakah ini benar? Saya selalu dihina, difitnah, dia tidak pernah membentak saya, sama sekali, dia datang membawa makanan setiap pagi. Dia sangat berharga,” katanya.

Akhirnya pengemis buta itu masuk Islam di hadapan Abu Bakar.

Memang benar bahwa di dalam Islam ada ajaran jihad dalam kegiatan jihad yang bertempur, tetapi aktvitas

Ini harus ditempatkan sebagaimana mestinya. Jihad bukanlah aturan. Berperang ada batas-batas yang harus dipatuhi, misalnya, sementara jihad tidak memboleh merusak tanaman, jangan membunuh wanita, anak-anak, dan orang tua, kecuali mereka menjadi kaki tangan atau mata-mata musuh dan ikut perlawanan. Keterbatasan telah sangat jelas menunjukkan bahwa Islam sangat menghargai kemanusiaan.

Nah, jika saat ini ada klaim kelompok Islam sambil mengabaikan aturan jihad begitu jelas sehingga diragukan apakah kelompok-kelompok ini sebenarnya sudah mempraktekkan Islam dengan benar. Kehadiran ISIS dan kelompok teroris lainnya untuk mengklaim syariah, jihad, khilafah, dan istilah lainnya tidak memberi rahmat bagi alam semesta serta karakteristik ajaran Islam. Kehadirannya hanya menyebabkan definisi, Islam, Syariah dan khalifah menjadi semakin ditakukti, semakin terpojok, kambing hitam, dan citra Islam semakin jelek di mata dunia. Dan itu tentu saja mereka tidak mewakili Islam sama sekali.

Penulis : Kang memed