SimponiNews.com, – Di tengah gempuran interaksi digital yang tak henti, muncul pertanyaan fundamental: apa yang mendorong individu untuk terus-menerus memproduksi dan mendistribusikan informasi melalui unggahan media sosial, bahkan ketika respons yang diterima tidak selalu signifikan? Mengapa pula seseorang begitu tergerak untuk menulis komentar—baik itu pujian, hujatan, dukungan, atau celaan—pada unggahan orang lain yang bahkan tidak mereka kenal secara pribadi?
Fenomena ini memicu refleksi lebih jauh: apakah informasi kini telah memiliki nilai setara dengan komoditas di era industri, sehingga proses produksinya menjadi sama krusialnya dengan manufaktur barang? Jawabannya dapat ditemukan melalui pendekatan pergeseran fundamental dalam struktur masyarakat, dari era industri menuju era informasi.
Salah satu tokoh yang secara komprehensif menguraikan transisi ini adalah Daniel Bell. Dalam karyanya yang monumental, "The Coming of Post-Industrial Society" (1973), Bell mengidentifikasi perbedaan mendasar antara modus operandi masyarakat industri dan masyarakat pascaindustri, yang kini dikenal sebagai masyarakat informasi. Menurut Bell, masyarakat industri dicirikan kuat oleh dominasi produksi barang, yang mengandalkan mesin milik kapitalis dan tenaga kerja manusia sebagai penggeraknya.
Sebaliknya, masyarakat pascaindustri atau masyarakat informasi, menonjolkan dominasi sektor jasa, peran sentral pengetahuan teoritis, serta meluasnya penggunaan teknologi informasi. Dalam konteks ini, modus produksi informasi menjadi karakteristik utamanya, menandai sebuah revolusi yang mengubah lanskap sosial dan ekonomi secara radikal.
Konsep masyarakat informasi ini kemudian diperkaya dan dideskripsikan lebih mendalam oleh Manuel Castells dalam bukunya "The Rise of Network Society" (1996). Castells sepakat dengan Bell mengenai masifnya produksi informasi sebagai penanda transformasi menuju masyarakat informasi. Namun, Castells membawa perspektif yang berbeda dengan menyoroti perubahan bentuk masyarakat itu sendiri.
Perubahan ini, menurut Castells, dipicu oleh adopsi teknologi informasi yang masif, khususnya mikroelektronik, yang prosesnya telah berlangsung sejak tahun 1970-an. Dalam rentang waktu yang panjang tersebut, masyarakat mengalami restrukturisasi melalui relasi khas yang tercipta oleh konektivitas mikroelektronik, membentuk apa yang ia sebut sebagai network society atau Masyarakat Jejaring.
Masyarakat Jejaring ini memiliki karakteristik yang sangat spesifik: global, informasional, dan terjejaring. Artinya, aktivitas sosial dan ekonomi tidak lagi terikat oleh batasan ruang dan waktu, memungkinkan jangkauan global. Seluruh aktivitas inti masyarakat ini bertumpu pada modus informasi, dan semua berlangsung dalam tatanan jejaring yang saling terhubung.
Implikasinya, struktur sosial, ekonomi, politik, dan budaya masyarakat kini ditentukan oleh logika jejaring global. Logika ini ditandai oleh relasi inklusi dan eksklusi, di mana nilai informasi yang dimiliki seseorang menjadi acuan utama. Jika informasi yang dimiliki dianggap berguna atau relevan, individu tersebut akan diinklusi atau diterima ke dalam jejaring.
Sebaliknya, jika informasi yang dimilikinya tidak bernilai atau tidak relevan, anggota masyarakat tersebut berisiko dieksklusi atau dikeluarkan dari jejaring. Dalam padanan relasi di media sosial, hal ini berarti bahwa individu yang memproduksi dan mendistribusikan informasi bernilai akan memiliki banyak pengikut, menandakan proses inklusi.
Namun, jika informasi yang dihasilkan tidak bernilai, seseorang akan terabaikan tanpa pengikut, mencerminkan keadaan eksklusi. Persoalannya, kelangsungan hidup dan jaminan eksistensi seringkali tersedia di dalam jejaring. Oleh karena itu, seluruh upaya hidup diarahkan pada urusan informasi, menjadikan informasi sebagai modus eksistensi utama dalam network society.
Kondisi masyarakat yang diuraikan Manuel Castells dalam bukunya kini telah berlangsung selama lebih dari tiga dekade. "The Rise of Network Society" adalah salah satu dari trilogi yang secara kolektif dikenal sebagai "The Information Age". Dua buku lainnya adalah "The Power of Identity" (1997) dan "End of Millennium" (1998), ketiganya menyajikan data yang kaya beserta analisis mendalam tentang era informasi.
Modus kehidupan kontemporer—mulai dari inovasi, efisiensi, hingga keamanan—semuanya memusat pada informasi. Deskripsi Castells tentang masyarakat abad ke-20, yang sangat intensif dipengaruhi oleh teknologi informasi, terbukti akurat. Penjelasan mengenai produksi dan distribusi informasi yang berlipat ganda ribuan kali, serta tendensi untuk membangun identitas, pengalaman, hingga kekuasaan yang mengandalkan informasi, dapat merujuk pada analisis komprehensif dari trilogi Castells ini.
Kembali pada pertanyaan pembuka di awal, dengan menggunakan logika jejaring, informasi setidaknya memiliki dua nilai fundamental: sosial dan ekonomi. Di era industri, informasi cenderung lebih bernilai sosial, namun di era informasi, nilainya secara ekonomi kian signifikan. Meskipun demikian, nilai sosial informasi dalam network society juga semakin menguat.
Sebagai nilai pertama, terbukti bahwa media sosial digunakan secara intensif untuk menampilkan diri dengan identitas tertentu, melalui produksi dan distribusi informasi sebagai unggahan. Identitas beserta atributnya, seperti keahlian, preferensi, atau bahkan kuasa, terbangun melalui konten digital ini. Mempertukarkan informasi bukan sekadar pemenuhan kebutuhan ritual agar seseorang dianggap "hidup", melainkan sebuah sarana esensial. Kehadiran sosial seseorang menjadi nyata dan terbentuk melalui unggahan media sosial.
Teori yang dikemukakan oleh John Short, Ederyn Williams, dan Bruce Christie pada tahun 1976, "The Theory of Social Presence," mengonfirmasi fenomena ini. Mereka menyatakan bahwa keberhasilan komunikasi yang termediasi dipengaruhi oleh derajat "kehadiran sosial" seseorang. Sementara itu, derajat kehadiran diri dalam aktivitas simbolik dipengaruhi oleh kemampuan individu untuk memformulasikan diri sebagai informasi. Singkatnya, kehadiran seseorang sangat ditentukan oleh kemampuannya mengubah diri menjadi informasi. Teori ini termuat dalam buku "The Social Psychology of Telecommunications."
Maka, ketika komunikasi hari ini didominasi oleh komunikasi termediasi komputer (computer-mediated communication), termasuk penggunaan media sosial, Charlotte Gunawardena pada tahun 1995 menyempurnakan konsep kehadiran sosial ini. Dalam artikelnya yang berjudul "Social Presence Theory and Implications for Interaction and Collaborative Learning in Computer Conferences," ia memperkenalkan konsep yang kini dikenal sebagai Digital Presence.
Penyempurnaan yang dikemukakannya menekankan bahwa kehadiran sosial seseorang di ruang digital tidak semata-mata ditentukan oleh aspek teknis alat komunikasi, atau hanya bertumpu pada karakteristik medianya. Lebih dari itu, kehadiran di ruang digital sangat dipengaruhi oleh cara seseorang menghadirkan informasi tentang dirinya sendiri dalam setiap interaksi. Artinya, terjadi pergeseran dari kehadiran yang semula ditentukan oleh media yang digunakan, kini bergeser menjadi persepsi yang dibangun oleh pengguna itu sendiri.
Dengan demikian, eksistensi seseorang tidak lagi ditentukan oleh medianya, melainkan oleh kemampuannya sendiri untuk hadir di hadapan orang lain. Tegasnya, hal ini mengacu pada "sejauh mana seseorang dianggap sebagai ‘orang sungguhan’ dalam komunikasi yang dimediasi." Di media sosial, kemampuan ini terwujud dalam kapasitas untuk mengubah diri secara utuh menjadi unggahan digital.
Maka, dapat dipahami mengapa produksi unggahan digital dalam berbagai bentuk—teks, audio, visual, video, maupun gabungannya—serta beragam komentar pada unggahan orang lain, dan berbagai interaksi seperti pemberian "gift," "like," atau unggah ulang, merupakan modus informasi untuk membangun kehadiran sosial diri. Meskipun ruangnya tidak nyata, tindakan mengubah diri menjadi informasi dalam network society telah menjadi modus kehadiran sosial yang dominan saat ini.
Ken Buis, dalam karyanya "Informationalism and You: Adapting to a Network Society based on Informationalism" (2013), mengonfirmasi seluruh gejala di atas. Ia menyebutkan bahwa dalam komunitas digital yang terus berkembang, tercipta sebuah "infosphere" baru. Infosphere ini merupakan ruang interaktif berbasis aliran informasi, di mana masyarakat jejaring membangun "real virtuality"—sebuah kemayaan yang terasa nyata—serta identitas dan eksistensi mereka. Masyarakat memproduksi dan mengonsumsi informasi, serta berinteraksi dalam kemayaan yang nyata di infosphere ini. Implikasinya, seseorang terinklusi sebagai anggota dalam masyarakat tersebut. Modus operandi dalam network society ini adalah informationalism.
Sedangkan nilai informasi yang kedua, meletakkannya sebagai sumber ekonomi. Hal ini juga mengacu pada pandangan Manuel Castells tentang "produk informasional." Pada dasarnya, dalam network society, informasi tidak hanya menjadi bahan baku, tetapi juga merupakan hasil akhir dari proses produksi. Informasi masuk sebagai input dan keluar sebagai output.
Kondisi ini semakin nyata terlihat ketika kita membahas produk kecerdasan berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI). Big data dalam jumlah yang sangat besar diolah dan dianalisis untuk menghasilkan produk kecerdasan. Wujudnya berupa informasi yang kemudian dapat digunakan untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi.
Dalam bentuk masyarakat ini, informationalism menjadi arah pengembangan teknologi maupun pengetahuan. Implikasinya, nilai suatu produk lebih ditentukan oleh proses informasi yang dialaminya, dibandingkan karakteristik komoditas fisiknya. Sebagai contoh, sebuah produk dengan harga bahan baku tertentu dapat memiliki nilai jual yang melonjak tinggi jika disertai narasi yang kuat—misalnya, asal-usul bahan bakunya dari sumber daya alam masa lampau, mesin produksi yang digunakan merupakan peninggalan peradaban sebelumnya, atau konsistensi etos pekerjanya yang terpelihara selama beratus-ratus tahun. Nilai jualnya tidak lagi tergantung pada biaya produksinya, melainkan berdasarkan nilai informasi yang membentuk persepsi produk sebagai komoditas langka.
Persepsi ini kemudian diterima dan disebarluaskan oleh jejaring. Semakin kompleks informasi yang berhasil membangun persepsi terhadap suatu produk, semakin tinggi pula nilai ekonominya. Hal ini terbukti pula dalam komodifikasi interaksi antarmanusia dan simbol-simbol budayanya, yang menghasilkan nilai ekonomi signifikan. Seorang influencer, berkat interaksinya yang masif dengan para pengikutnya, dapat menikmati penghasilan yang besar. Bahkan, tuturan seorang influencer—yang mampu membuat sebuah produk mengalami "viralitas"—dapat secara langsung memengaruhi harga saham perusahaan, baik naik maupun turun.
Pada masyarakat yang beroperasi dengan modus informasi, nilai informasi dapat melampaui hakikat realitas itu sendiri. Seluruh dinamika ini menjadikan informasi sebagai alat sekaligus tujuan dalam setiap gerak sosial dan ekonomi masyarakat modern.
Dr Firman Kurniawan S. Pemerhati Budaya-Komunikasi Digital dan Pendiri LITEROS.org.
Sumber: news.detik.com