SimponiNews.com, Jakarta – Wakil Menteri Sosial (Wamensos), Agus Jabo Priyono, menyerukan perubahan paradigma mendasar dalam pelaksanaan Corporate Social Responsibility (CSR) atau Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) di Indonesia. Beliau menegaskan bahwa program CSR perusahaan memiliki peran strategis yang tak tergantikan dalam upaya kolektif mengentaskan kemiskinan struktural yang masih membelenggu sebagian masyarakat. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah forum penting yang menekankan kolaborasi lintas sektor.
Dalam pandangan Wamensos, praktik CSR tidak lagi cukup dipahami sebagai sekadar pemenuhan kewajiban administratif atau serangkaian kegiatan karitatif yang bersifat sesaat. Lebih dari itu, CSR harus ditingkatkan statusnya menjadi komponen integral dari strategi pembangunan nasional, sebuah alat vital untuk mencapai pembangunan sosial yang berkelanjutan dan memberikan kontribusi nyata bagi kesejahteraan masyarakat. Pergeseran ini menjadi inti dari visi Kementerian Sosial untuk optimalisasi peran dunia usaha.
Agus Jabo Priyono menjelaskan bahwa Kementerian Sosial secara konsisten mendorong transformasi pendekatan CSR dan TJSL dari model "charity" atau kedermawanan pasif menjadi "community development" atau pengembangan komunitas yang aktif dan berkelanjutan. Transformasi ini bertujuan untuk menciptakan dampak jangka panjang, bukan hanya bantuan sementara. Visi ini diungkapkannya pada acara CSR Summit 2026 yang berlangsung di Gedung Aneka Bhakti Kementerian Sosial, Jakarta.
Pada kesempatan tersebut, Wamensos mengajak para pemimpin perusahaan, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), pelaku dunia usaha, serta lembaga filantropi yang hadir untuk memperkuat kolaborasi. Sinergi ini, menurutnya, krusial dalam merumuskan dan mengimplementasikan strategi pengentasan kemiskinan yang berlandaskan pada pendekatan pemberdayaan. Fokus utamanya adalah membantu masyarakat agar mandiri dan memiliki kapasitas untuk keluar dari lingkaran kemiskinan.
"Ini adalah pekerjaan rumah bersama yang besar. Oleh karena itu, forum CSR ini memiliki arti penting, karena kita harus berkolaborasi, kita harus bersinergi," tutur Agus Jabo. Ia menambahkan sebuah refleksi mendalam, "Jika kita menoleh ke belakang, masih banyak saudara-saudara kita yang belum merasakan hidup sejahtera." Pernyataan ini menggarisbawahi urgensi dari upaya kolektif yang lebih terstruktur dan berorientasi pada hasil.
Lebih jauh, Agus Jabo Priyono memaparkan bahwa landasan hukum untuk pelaksanaan CSR di Indonesia sudah kokoh dan jelas. Payung hukum tersebut mencakup Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, yang mewajibkan perusahaan melaksanakan tanggung jawab sosial. Selain itu, Peraturan Menteri Sosial Nomor 9 Tahun 2020 tentang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Badan Usaha juga turut memperkuat kerangka regulasi ini.
Regulasi-regulasi tersebut, lanjutnya, menjadi fondasi kuat yang memungkinkan penguatan kolaborasi antara dunia usaha dengan pemerintah dan masyarakat. Tujuannya adalah untuk mendukung tercapainya pembangunan sosial yang tidak hanya berkelanjutan tetapi juga inklusif, memastikan bahwa tidak ada kelompok masyarakat yang tertinggal dalam proses kemajuan. Kerangka hukum ini memberikan legitimasi dan arah bagi setiap inisiatif CSR.
Dalam implementasinya, prioritas utama dari program CSR yang berorientasi pada kesejahteraan sosial diarahkan untuk menjangkau segmen masyarakat yang paling rentan. Kelompok-kelompok ini mencakup anak-anak yang berada dalam kondisi rentan, penyandang disabilitas, lansia yang telantar, perempuan yang menghadapi kerentanan khusus, korban bencana alam, masyarakat miskin ekstrem, hingga berbagai kelompok lain yang mengalami kerentanan sosial dan ekonomi. Pendekatan ini memastikan bantuan tepat sasaran dan berkeadilan.
"Oleh karena itu, Kementerian Sosial terus memperkuat perannya sebagai fasilitator utama dan penghubung bagi berbagai inisiatif kolaborasi," jelas Agus Jabo. Kementerian menyediakan akses data yang akurat, merumuskan regulasi yang mendukung, memperkuat fungsi forum-forum CSR, memberikan pendampingan berkelanjutan kepada mitra, serta meningkatkan kapasitas para pemangku kepentingan. Selain itu, Kementerian juga memberikan apresiasi kepada perusahaan yang menunjukkan komitmen tinggi terhadap CSR.
Agus Jabo Priyono menyuarakan harapannya agar CSR di Indonesia dapat melampaui sekadar menjadi simbol kepedulian korporasi. Beliau menginginkan agar CSR bertransformasi menjadi kekuatan sosial yang nyata, yang memiliki kapabilitas untuk mempercepat proses pengentasan kemiskinan. Lebih jauh, CSR diharapkan mampu membuka akses terhadap berbagai kesempatan usaha baru, memperkuat pemberdayaan masyarakat, serta pada akhirnya menciptakan komunitas yang mandiri dan produktif.
"Kami juga mengajak dunia usaha untuk secara berkelanjutan memperkuat sinergi dengan berbagai pihak," tutur Wamensos. Kolaborasi ini tidak hanya terbatas pada pemerintah, tetapi juga melibatkan institusi pendidikan tinggi, komunitas lokal, serta lembaga filantropi. Tujuannya adalah untuk bersama-sama merancang dan membangun model pembangunan sosial yang bersifat inklusif dan memiliki daya tahan jangka panjang, yang mampu menjawab tantangan zaman.
Sejalan dengan pandangan Agus Jabo, Founder dan CEO The Iconomics, Bram S. Putro, juga menyampaikan pandangan serupa mengenai pentingnya evolusi CSR. Beliau menggarisbawahi bahwa program CSR yang hanya berfokus pada pemberian bantuan semata tidaklah cukup, sebab pendekatan tersebut cenderung kurang berorientasi pada keberlanjutan dan dampak jangka panjang. Ia menekankan perlunya visi yang lebih komprehensif.
"Dan forum hari ini sangat penting, untuk memiliki pandangan yang sama mengenai CSR ini," tegas Bram. Ia menjelaskan bahwa perspektif terhadap CSR harus berubah drastis: dari yang tadinya terfragmentasi menjadi kolaboratif, dari yang simbolik menjadi strategis, serta dari program-program jangka pendek beralih ke inisiatif yang berorientasi jangka panjang dan berkelanjutan. Perubahan ini krusial untuk memaksimalkan efektivitas CSR.
Kegiatan penting ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh terkemuka, termasuk Pemimpin Redaksi The Iconomics Arif Hatta, Direktur Riset The Iconomics Alex Mulya. Selain itu, berbagai pimpinan perusahaan, perwakilan BUMN, pelaku dunia usaha, dan lembaga filantropi, narasumber dari kalangan akademisi, serta pemangku kepentingan terkait lainnya turut meramaikan diskusi. Kehadiran beragam pihak ini menunjukkan komitmen bersama terhadap masa depan CSR yang lebih strategis dan berdampak.
Sumber: news.detik.com