SimponiNews.com, Semarang – Proses seleksi masuk Akademi Kepolisian (Akpol) di tingkat pusat selalu menjadi sorotan utama, mengingat urgensi institusi ini dalam mencetak calon pemimpin masa depan Polri. Dari ribuan pemuda-pemudi terbaik bangsa yang bersaing, salah satunya adalah Ghyna Islamiati Ramly, seorang calon taruna (catar) berprestasi asal Palu, Sulawesi Tengah. Ia menyoroti sistem penilaian yang transparan dan akuntabel sebagai pilar utama integritas seleksi yang ia jalani di Semarang, Jawa Tengah.
Ghyna, yang mengakui beratnya tantangan dalam menghadapi soal-soal akademik dan bahasa Inggris, justru menemukan ketenangan dalam kejujuran proses yang diterapkan. Ia mengungkapkan rasa lega dan keyakinannya terhadap sistem yang tidak memberi celah bagi manipulasi, di tengah persaingan ketat untuk meraih mimpi menjadi abdi negara.
Salah satu inovasi yang paling diapresiasi Ghyna adalah metode penilaian yang langsung diperlihatkan kepada peserta. "Nilai langsung ditampilkan di komputer masing-masing," tuturnya, menggambarkan bagaimana setiap catar dapat segera mengetahui hasil ujiannya sesaat setelah menyelesaikan tes. Mekanisme ini secara efektif menghilangkan keraguan dan spekulasi mengenai hasil akhir.
Transparansi tidak berhenti sampai di situ. Setelah nilai individual muncul, panitia mencetak seluruh rekapitulasi nilai peserta dalam satu lembar dokumen besar. Dokumen krusial ini kemudian ditandatangani secara kolektif oleh seluruh peserta, menegaskan validitas dan kesepakatan bersama atas hasil yang tercantum.
Melalui proses verifikasi bersama ini, setiap catar diberikan kesempatan untuk tidak hanya melihat nilainya sendiri, tetapi juga nilai rekan-rekan sesama peserta. "Semua nilai peserta di-print dalam satu kertas untuk ditandatangani bersama-sama," jelas Ghyna, menyoroti bagaimana sistem ini menumbuhkan rasa kebersamaan dan kepercayaan terhadap keadilan proses.
Aspek keadilan juga terasa dalam perlakuan panitia terhadap seluruh calon taruna, tanpa memandang latar belakang sosial atau ekonomi. Ghyna merasa bahwa panitia memperlakukan setiap individu secara setara, menjamin tidak ada perlakuan istimewa bagi siapa pun.
Prinsip ini terbukti melalui kebijakan yang ketat: jika ada seorang catar yang melakukan pelanggaran disiplin, maka konsekuensinya akan ditanggung bersama oleh seluruh kelompok. "Kalau satu salah, semua kena hukuman," ucap Ghyna, menunjukkan bagaimana sistem ini membangun tanggung jawab kolektif dan menjunjung tinggi kesetaraan.
Objektivitas penilaian juga menjadi landasan utama, terutama dalam tes kesamaptaan jasmani yang seringkali rentan terhadap subjektivitas. Ghyna menggarisbawahi penggunaan teknologi canggih dalam penghitungan gerakan, seperti alat digital yang memastikan setiap gerakan terukur secara akurat.
Penerapan teknologi ini secara signifikan mengurangi potensi bias dari penilaian manual oleh petugas. Hasilnya, setiap peserta menerima evaluasi yang murni berdasarkan kinerja fisik mereka, memastikan bahwa seleksi jasmani benar-benar didasarkan pada kemampuan dan standar yang ditetapkan.
Meskipun demikian, Ghyna mengakui bahwa tantangan akademis, khususnya tes bahasa Inggris, sangatlah berat. Sebagai alumnus SMA Al-Azhar Mandiri Palu, ia memiliki rekam jejak yang mentereng, termasuk pengalaman di forum internasional dan sering memenangkan lomba bahasa Inggris sejak SMP. Namun, ia tetap merasa kesulitan menghadapi soal-soal di tingkat pusat Akpol.
Tingkat kesulitan yang tinggi ini, menurut Ghyna, merupakan standar yang wajar dan relevan dengan tuntutan profesi kepolisian di era global. "Saya merasa tesnya sangat sulit. Menurut saya setara soal olimpiade," katanya, menegaskan bahwa Akpol perlu memastikan calon tarunanya memiliki kapasitas intelektual yang mumpuni.
Ia juga menambahkan, "Bahasa Inggris adalah bahasa internasional. Jadi memang harus bisa memberikan keyakinan kepada masyarakat bahwa taruna-taruni Akpol memiliki kualitas yang dibutuhkan negara." Pernyataan ini mencerminkan pemahaman Ghyna akan pentingnya kompetensi global bagi aparat penegak hukum di masa depan.
Rekam jejak Ghyna sendiri cukup impresif. Pada tahun 2024, ia adalah anggota Paskibraka Provinsi Sulawesi Tengah, menunjukkan disiplin dan dedikasi yang tinggi. Tak hanya itu, Ghyna juga pernah dua kali mewakili Indonesia di forum internasional.
Pada tahun 2025, ia menjadi delegasi Indonesia dalam Asian Youth Forum di Korea Selatan, di mana ia membawakan materi penting tentang kesehatan mental. Di tahun yang sama, Ghyna kembali dipercaya mewakili bangsa dalam Global Youth Forum di Jepang, kali ini untuk mempresentasikan isu krusial pemanasan global.
Dalam seleksi tingkat pusat Akpol ini, Ghyna berhasil meraih nilai Tes Potensi Akademik (TPA) sebesar 74. Untuk Tes Bahasa Inggris yang ia akui sangat sulit, Ghyna memperoleh nilai 56, dan nilai kesamaptaan jasmani sebesar 72. Perolehan ini menunjukkan konsistensi dan kegigihannya dalam menghadapi seleksi yang ketat.
Pengalaman Ghyna menegaskan bahwa proses seleksi Akpol tahun ini memprioritaskan meritokrasi dan objektivitas, sehingga menghasilkan calon-calon taruna yang benar-benar berkualitas. Sistem yang transparan dan adil ini memberikan keyakinan kepada para peserta dan masyarakat bahwa Akpol serius dalam menjaring individu terbaik untuk mengabdi kepada negara.
Sumber: news.detik.com